Anakku Pengen Temu Gusti Allah
Tadi sore ketika anakku yang terkecil sedang bermain dengan kakak-kakaknya tiba-tiba dia mendatangi aku dan berkata, “Pak, Cathy pengen temu Gusti Allah,” terus terang dengan ujarannya itu aku kaget, namun kucoba untuk tersenyum pada gadis kecilku yang masih duduk di TK A ini. Anakku Pengen Temu Gusti Allah.
“Kenapa anakku pengen temu Gusti Allah?” Tanyaku.
“Ga tahu,” jawabnya polos, “pokoknya Cathy pengen temu Dia. Cathy mencintai Gusti Allah…” lanjutnya.
“Cathy, Gusti Allah pun selalu mencintai Cathy…”
“Itu Cathy tahu dan merasakannya” potongnya, “tapi Cathy belum pernah bisa temu Gusti Allah.” Lanjut anakku ini dengan mimik yang serius.
“Cathy, Gusti Allah itu selalu dekat dengan diri kita. Cathy lebih dekat dengan Gusti Allah dibanding Cathy dekat dengan Bapak, Ibu, Kakak atau Mas…”
“Mana? Cathy tidak melihatNya?” Aku gelagapan. Aku kehilangan akal untuk menjelaskan hal yang dalam pada bocah yang baru menginjak lima tahun ini. Tidak mungkin aku menjelaskannya dengan menukil Ayat Qur’an yang menerangkan, bahwa Tuhan sangat dekat, lebih dekat dari urat leher. Atau beberapa Hadits dan ujaran para Ulama Sufi Besar yang mengajarkan hal itu. Aku kehilangan kata-kata yang tepat.
“Cathy, untuk menemui Gusti Allah secara langsung, kita harus melewati kematian dulu…” Sebenarnya ingin aku jelaskan bahwa di dunia pun kita bisa untuk menemui gusti Allah secara langsung tanpa lewat kematian. Kematian di sini seperti halnya keterangan beberapa Ulama Sufi dalam karyanya, kematian dari segala kehendak sehingga kehendak yang muncul adalah Kehendak Yang Maha Kuasa. Namun aku cegah, tak mungkin aku menerangkan hal itu padanya.
“Agar bisa temu Gusti Allah secara langsung harus mati dulu ya, Pak?”
“Iya.”
“Kalo begitu biar Cathy mati dulu aja.” Duarr!!! rasanya aku seperti tersambar petir besar tanpa didahului hujan.
“Cathy…” kerongkonganku seperti tersekat. Tiba-tiba aku membayangkan kematian anak terkecilku ini. Dan mataku terasa berkaca. Ah, tapi kucoba kuatkan diriku. Jangan sampai aku terlihat lemah di mata bidadari kecilku ini. “Kematian itu adalah hal yang sudah pasti. Siapa pun pasti mengalaminya. Dan kematian sudah ditentukan, tidak bisa dipercepat maupun diperlambat. Jadi Cathy atau siapa pun tidak bisa meminta kematian. Itu tidak boleh, Gusti Allah nanti akan marah. Nanti bila Cathy telah dewasa dan terus memelihara dan menjaga cinta Cathy pada Gusti Allah. Gusti Allah pasti akan menunjukkan jalan bagaimana menemuiNya secara langsung tanpa lewat kematian. Cathy, Bapak selalu mendoakannya…”
* * *
Bagi Anda mungkin cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Tapi bagi diriku yang mengalaminya sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Seorang bocah dengan kepolosannya sudah berani menantang kematian demi cintanya yang luhur. Sedang aku, masih banyak kehendak yang ingin kuwujudkan. Kehendak atau keinginan-keinginan yang bersifat nisbi dan sementara. Keinginan dengan nuansa duniawiah dan fisik belaka.
Aku musti belajar pada anakku; Cattleya Chidhria. Teman-teman, aku mohon doakan anak-anakku semoga menjadi manusia dengan totalitas penghambaan hanya padaNya. Amien.

August 24th, 2008 at 4:40 pm
Saya doakan anak anda jadi orang solihah yah
.
[Reply]
August 24th, 2008 at 9:11 pm
org yg merindukan bertemu ALLAH slalu ingat kematian, org yg ingat mati takut berbuat maksiat
semoga cattleya chidhria termasuk seperti itu (Amin….)
boss…. nama anaknya susah amat
[Reply]
September 1st, 2008 at 5:12 pm
Alhamdulillah lek sudah ada amanat. kita memang punya tugas yang berat terutama dalam memberikan edukasi. aku teringat juga cerita yuva (putumu kuwi lho) yang mau tobat karena lihat foto embahnya (wak zi) yang terkena penyakit hati dalam kondisi kulit menguning.
semoga kita semua punya generasi penerus berhati mulia seperti mereka (cathy dan yuva). Amin
[Reply]