24.08.2008
by leoden
Category Hikmah
7 Comments →
Ini pengalamanku yang kelima kali bahkan mungkin lebih, sejak aku tinggal di rumah baru ini yang belum genap 14 bulan. Pengalaman yang tak mengenakkan; menjumpai orang berantem bag-big-bug. Bener-bener berantem, saling pukul. Barusan saja ketika aku mau coba posting, tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak-teriak. Aku segera melompat dari depan desktop ini dan bergegas keluar rumah. Ada yang Berantem Lagi.
Ceritanya tuh, tetangga sebelah punya gawe; mantu. Seperti biasanya di desa ini selalu tidak ketinggalan entah itu orang berpunya atau tidak, setiap punya gawe baik kawinan maupun sunatan bahkan 7 bulanan atau tedak siten selalu mengadakan tanggapan. Read More
23.08.2008
by leoden
Category Hikmah
3 Comments →
Tadi sore ketika anakku yang terkecil sedang bermain dengan kakak-kakaknya tiba-tiba dia mendatangi aku dan berkata, “Pak, Cathy pengen temu Gusti Allah,” terus terang dengan ujarannya itu aku kaget, namun kucoba untuk tersenyum pada gadis kecilku yang masih duduk di TK A ini. Anakku Pengen Temu Gusti Allah.
“Kenapa anakku pengen temu Gusti Allah?” Tanyaku. Read More
23.08.2008
by leoden
Category Bermain Kata
No Comments →

Seperti noktah pada hamparan jutaannya di sore hari
ada semburat jingga di keningmu                                                                                                                    kelelahan yang kutandakan
ada bias darah di pipimu                                                                                                                                     isyarat lukaku
Perempuanku, pada dunia yang kuserapkan di guagarbamu
kucobaartikan segala tentang pahit
kauhidangkan sebagai manis Read More
06.08.2008
by leoden
Category Senyum
5 Comments →
Temanku yang satu ini senang sekali bertandang. Biasanya hal ini dilakukan selepas Isya dan dia selalu menelepon teman-teman lainnya untuk berkumpul di rumah yang dikunjunginya. Selalu saja ada yang datang, minimal tiga orang. Yah beginilah, kalau sejak lahir klower kami lebih betah untuk tinggal di kota kecil ini, tidak punya jiwa perantau. Paling-paling kuliah, setelah selesai kami pulang dan bikin usaha sendiri-sendiri, kebanyakan sih memang di bidang batik. Maklum kota batik. Sebagian dari kami sudah banyak yang jadi juragan. Sebagian lagi masih sekadar perajin seperti aku ini, ah tapi itu khan sebuah pilihan karena tak mau dipusingkan dengan biro gilyet, chek dan nota-nota tagihan lainnya. He..he..he.. alasan, padahal memang tak mampu. Oh ya, temanku tadi namanya Sahli, namun kami biasa memanggilnya - maaf - Jembut. Dia sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu. Bahkan konon istrinya pun ketika asyik-masyuk dengnnya memanggilnya, “Mas Mbut…” Ah ada-ada saja. Entah siapa yang pertama memanggil itu. Namun rasanya sejak kami kelas satu SD sudah memanggilnya demikian. Jadi untuk menerangkan kenapa panggilannya dengan sebutan jorok itu aku tak bisa. Read More
05.08.2008
by leoden
Category Motivasi
3 Comments →
“Hidupku sungguh membosankan,” keluh seorang pria berumur 47 tahun. “Setiap pagi aku bangun tidur, bekerja, lalu pulang ke rumah. Tiba di rumah, aku kembali menjalani hal yang sama - membaca koran, makan malam, bercengkerama dengan anak-istri, melakukan sedikit pekerjaan rumah, menonton TV dan naik ke tempat tidur. Esoknya, bangun dan kembali bekerja.”
“Dulu aku senang dengan apa yang aku kerjakan. Tapi sekarang rasanya aku sudah mandek. Apa lagi yang harus aku kerjakan pada sisa hidupku? Aku rasa hidupku ini akan berjalan terus seperti ini sampai aku mati.”
Pria ini sudah mandek - tak bisa lagi ke mana-mana - dan ia merasa terjebak dalam hidupnya. Ia tidak tahu lagi dan merasa takut untuk membebaskan diri dari rutinitasnya. Tapi kalau saja ia bisa menerima kenyataan bahwa ia sedang berada pada akhir dari suatu fase tertentu, maka ia mempunyai peluang untuk memulai sesuatu yang baru. Dan inilah sebenarnya yang harus diperjuangkan.
Bagi sebagian besar kita; pekerjaan adalah dasar dari identitas dan harga diri, dan ini berlaku selama kita terus mengalami keberhasilan. Tapi kenaikan pangkat, gaji dan karir itu ada batasnya, sehingga kedang-kadang menimbulkan perasaan gagal pada diri kita. Read More