Berantem Lagi
Ini pengalamanku yang kelima kali bahkan mungkin lebih, sejak aku tinggal di rumah baru ini yang belum genap 14 bulan. Pengalaman yang tak mengenakkan; menjumpai orang berantem bag-big-bug. Bener-bener berantem, saling pukul. Barusan saja ketika aku mau coba posting, tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak-teriak. Aku segera melompat dari depan desktop ini dan bergegas keluar rumah. Ada yang Berantem Lagi.
Ceritanya tuh, tetangga sebelah punya gawe; mantu. Seperti biasanya di desa ini selalu tidak ketinggalan entah itu orang berpunya atau tidak, setiap punya gawe baik kawinan maupun sunatan bahkan 7 bulanan atau tedak siten selalu mengadakan tanggapan. Dari mulai orjen tunggal sampai dangdut setingkat kucing garong. Dari wayang golek semalam suntuk sampai wayang kulit dengan banyak kru dan perkakasnya, tiga hari tiga malam. Padahal kalau mau tahu, rata-rata pekerjaan orang sini itu; tukang batu, tukang kayu, buruh tani, tukang becak dan pembatik. Maaf, penghasilannya bisa diukur cukup dengan kekuatan otot dan basahnya keringat. Hanya beberapa gelintir saja yang setingkat juragan kayak aku… he..he.. nyombong Mode On. Juragan tingkat RT. Entah bagaimana cara itung-itungannya mereka dapat duit untuk punya gawe dengan tanggapan yang cukup besar biayanya itu.
Sejak tadi jam 8 malam musik dangdut yang sangat memekakkan telinga mulai membahana. Lagu-lagu dangdut pun hilir-mudik bergantian menyesaki udara desa ini. Kata orang-orang - abis tidak lihat sendiri sih - ketika ada seorang biduanita dangdut yang cukup bahenol manggung ada anak cowok abg rupanya tidak kuat ama desakan nafsu purbawinya. Ia melompat ke panggung dan mencoba memeluk-cium si biduanita semok itu. Kebetulan anak itu dari RT sebelah, anak-anak sini pun tidak terima. Langsung merangsek dan memukulinya. Akhirnya orang-orang tua turun tangan, melerai.
Permasalahan yang kecil di kampung ini bisa menjadi masalah besar dan melebar. Banyak sekali sebenarnya cerita per-berantem-an yang ada di sini. Cuman aku males nulisnya. Aku hanya ingin sedikit menyoroti sebab musabab masyarakat kampung ini termasuk kategori sumbu pendek; mudah terbakar.
Alasan pertama; Sebagian besar mereka berpendidikan formal tidak lebih dari jenjang SD dan itu pun tidak selesai alias drop out. Menurutku bagaimana pun pola pikir seseorang sangat terpengaruh dari terbiasa atau tidaknya dia berabstraksi logis. Dan sarana untuk berabstraksi logis atau bernalar yang konstruktif hanya lewat pendidikan formal. Karena pendidikan formal mengharuskan anak didiknya untuk konsisten belajar dalam jangka waktu yang ditentukan. Tentu saja nalar seseorang yang hanya jebolan SD tidak mempunyai memori literer yang mencukupi dalam memutuskan suatu aksi maupun reaksi dibanding dengan seseorang yang lulus SMP atau tingkat-tingkat pendidikan formal di atasnya.
Alasan kedua; kampung ini seperti layaknya daerah terpencil karena terkepung persawahan yang cukup luas. Sehingga kurang adanya sosialisasi dengan dunia luar. Dengan kurangnya pergaulan tentu saja wawasan yang dipunya akan lebih sedikit dibanding dengan orang yang mempunyai pergaulan yang luas. Dan terang hal ini akan mempengaruhi pola pikirnya. Oh ya, di sini banyak perkawinan terjadi antar tetangga atau kerabat dan padan usia sangat muda. Seusia Bocah di kampung ini sudah punya anak dua atau tiga. Seumuranku sudah punya cucu. Hix… cepat dipanggil Mbah Kakung…
Alasan Ketiga; Kurang kuatnya pemahaman keberagamaan dan ketuhanan atau ketauhidan. Hal ini berakibat dalam menilai sesuatu hanya putus pada; menguntungkan atau merugikan saya? Dia menjelekkan atau memuji saya? Mengelus atau menjitak saya? Dan nilai-nilai terdalam dari agama lepas begitu saja. Agama dipahami sebagai ritual belaka.
Nah itulah keadaan kampungku ini, semoga saja tidak berlarut. Dan Tuhan mengirimkan Mesias atau apalah namanya untuk menghembuskan kesejukdamaian di kampungku ini.

August 25th, 2008 at 7:07 am
Hidup memang penuh kejutan yang tidak terduga.
[Reply]
August 25th, 2008 at 10:33 am
walah mas
bukan lulusan SD aja yang suka berantem. Mahasiswa, siswa smp, sma dan juga yang udah lulus kuliah aja jg banyak yang berantem bos. Mudah sekali tersulut emosinya
termasuk saya juga.
[Reply]
August 26th, 2008 at 9:25 am
Alhamdulillah…saya ga pernah berantem, kalo di tonjok pernah
saya setuju dengan si masnya cah, kalaupun berantem, berantemnya lulusan sd ma mahasiswa berbeda.
[Reply]
September 11th, 2008 at 9:02 am
iyaaah, emang berantem bisa dilakukan siapa ajaah, di mana ajaaah… , semoga semua bisa lebih bisa bertindak sesuai hati nurani, ga cuman emosi yaaah….
[Reply]
September 24th, 2008 at 2:46 pm
Hobby saya waktu kecil itu …
[Reply]
October 4th, 2008 at 3:39 am
hmm .. aku koq ga suka berantem yah?
[Reply]
October 11th, 2008 at 2:30 pm
mas..pa khabaaar? mana tulisannya lagiii? ditungguin yaaaaah……gi sibuk apa niii?
[Reply]