“Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?” Demikian yang dituliskan Nitzsche (filsuf Jerman, 1844-1900).
Dan kini, setelah satu abad lebih dari era Nitzsche, darah di pisau-pisau itu masih segar. Darah Tuhan. Setiap saat telah terjadi pembunuhan terhadap Tuhan dan melahirkan tuhan-tuhan baru. Sebentar, Anda jangan protes dulu… Kenyataan yang ada sekarang coba kita lihat.
Di Pasar-pasar, coba tanyakan pada penjual dan atau pembeli. Mereka berada di situ karena apa dan untuk apa. Pasti jawabannya; Tuhan Telah Mati. Tidak ada satu pun dari jawaban baik tersirat maupun tersurat; karena Tuhan dan untuk Tuhan. Karena jika ada jawaban semacam itu, si penjawab akan dianggap tidak normal alias gila. Di Kantor-kantor, di semua tempat usaha dan tempat kerja, di jalanan, di mana pun, bahkan di masjid-masjid, surau-surau, gereja, vihara, dan tempat ibadah lainnya; Tuhan Telah Mati. Kok bisa begitu? Coba telusuri hati kita masing-masing, segala aktifitas yang kita lakukan dari sejak bangun tidur hingga tidur lagi, di manakah Tuhan? Bahkan ketika kita melakukan aktifitas yang disebut sebagai ibadah. Apa kita menyembahNya, betul-betul bulat apa yang kita lakukan hanya untukNya? Tidak. Pada kenyataannya, ketika melakukan ibadah, sebenarnya didasari oleh ketakutan atau harapan saja. Takut kalau dikatakan sebagai orang yang tidak taat beragama, takut siksaanNya jika tidak beribadah, bahkan takut kalau-kalau Tuhan tidak sayang hingga tidak memberikan rejeki yang melimpah. Mengharap banyak dari Tuhan untuk melahirkan tuhan-tuhan baru.
Apalagi kalau melihat fenomena yang terjadi di tempat yang dianggap mulia, Gedung DPR, anyir darah Tuhan sangat menyengakkan. Bayangkan beberapa wakil rakyat dari partai yang katanya berlandaskan agama, kok bisa-bisanya dengan bangga menyikat apa yang bukan menjadi haknya. Baik itu duit maupun busit (bokong). Read More