LeOden.net

Bacalah Dengan Asma Tuhanmu Yang Mencipta…
Random Image

Kehidupan adalah suatu permainan. So, jangan terlalu suntuk dengan kekhawatiran, be happy... Jangan pernah mau jadi pecundang...

Menangkan Permainan...kehidupan...dengan belajar dan berbagi bersama...


Archive for the ‘Hikmah’


Berantem Lagi

berantem lagiIni pengalamanku yang kelima kali bahkan mungkin lebih, sejak aku tinggal di rumah baru ini yang belum genap 14 bulan. Pengalaman yang tak mengenakkan; menjumpai orang berantem bag-big-bug. Bener-bener berantem, saling pukul.  Barusan saja ketika aku mau coba posting, tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak-teriak. Aku segera melompat dari depan desktop ini dan bergegas keluar rumah. Ada yang Berantem Lagi.

Ceritanya tuh, tetangga sebelah punya gawe; mantu. Seperti biasanya di desa ini selalu tidak ketinggalan entah itu orang berpunya atau tidak, setiap punya gawe baik kawinan maupun sunatan bahkan 7 bulanan atau tedak siten selalu mengadakan tanggapan. Read More

Anakku Pengen Temu Gusti Allah

cathyTadi sore ketika anakku yang terkecil sedang bermain dengan kakak-kakaknya tiba-tiba dia mendatangi aku dan berkata, “Pak,  Cathy pengen temu Gusti Allah,” terus terang dengan ujarannya itu aku kaget, namun kucoba untuk tersenyum pada gadis kecilku yang masih duduk di TK A ini. Anakku Pengen Temu Gusti Allah.

“Kenapa anakku pengen temu Gusti Allah?” Tanyaku. Read More

Kontemplasi Perajin Batik

Ada seorang teman, perajin batik sekaligus penganut salah satu tarekat sufi. Suatu hari dia pernah kebingungan antara meneruskan profesinya sebagai perajin batik atau berpindah profesi. Hal ini dirasakannya mengingat apa yang dia tekuni tidak memberikan imbalan materi yang cukup dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, satu istri dan tiga orang anak yang masih sekolah. Beberapa teman telah dia ajak bicara untuk diminta pendapatnya, namun tak seorang pun bisa memberikan advis yang bisa membuat hatinya yakin dan tenteram. Sholat istikharah (Meminta petunujuk Tuhan) pun sudah beberapa kali dia lakukan namun tidak juga memberikan gambaran yang pasti. Akhirnya, dia menghadap mursyid (guru spiritual) nya. Dia kemukakan apa yang menjadi kemusykilan dalam benaknya, antara meneruskan profesi sebagai perajin batik yang dianggapnya tidak menghasilkan materi yang cukup atau beralih profesi yang bisa memamurkan dan mensejahterakan keluarganya. Dan dia pun mendapat jawaban dari Sang Guru, “teruskan batik sampai futuh (istilah sufi untuk menggambarkan keadaan di mana sudah tidak ada lagi halangan), jika batikmu sudah futuh maka segala apapun pada dirimu akan futuh juga.” Mak cesss… rasanya seperti ada air sejuk mengguyur hatinya.

Memang demikianlah perasaan yang dialami para penempuh jalan sufi ketika menghadapi suatu kebingungan dan lantas menerima advis dari guru spiritualnya. Namun, teman yang satu ini tidak berhenti di situ. Ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Kenapa batik? Kok tidak hal yang lain yang bisa membuatnya futuh. Bahkan dikatakan oleh mursyidnya, dengan batik semua hal akan bisa lancar… dan ini sudah mengarah pada keruhanian, hal-hal yang bersifat ilahiah. Nah… Read More

Tuhan Telah Mati

“Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?” Demikian yang dituliskan Nitzsche (filsuf Jerman, 1844-1900).

Dan kini, setelah satu abad lebih dari era Nitzsche, darah di pisau-pisau itu masih segar. Darah Tuhan. Setiap saat telah terjadi pembunuhan terhadap Tuhan dan melahirkan tuhan-tuhan baru. Sebentar, Anda jangan protes dulu… Kenyataan yang ada sekarang coba kita lihat.

Di Pasar-pasar, coba tanyakan pada penjual dan atau pembeli. Mereka berada di situ karena apa dan untuk apa. Pasti jawabannya; Tuhan Telah Mati. Tidak ada satu pun dari jawaban baik tersirat maupun tersurat; karena Tuhan dan untuk Tuhan. Karena jika ada jawaban semacam itu, si penjawab akan dianggap tidak normal alias gila. Di Kantor-kantor, di semua tempat usaha dan tempat kerja, di jalanan, di mana pun, bahkan di masjid-masjid, surau-surau, gereja, vihara, dan tempat ibadah lainnya; Tuhan Telah Mati. Kok bisa begitu? Coba telusuri hati kita masing-masing, segala aktifitas yang kita lakukan dari sejak bangun tidur hingga tidur lagi, di manakah Tuhan? Bahkan ketika kita melakukan aktifitas yang disebut sebagai ibadah. Apa kita menyembahNya, betul-betul bulat apa yang kita lakukan hanya untukNya? Tidak. Pada kenyataannya, ketika melakukan ibadah, sebenarnya didasari oleh ketakutan atau harapan saja. Takut kalau dikatakan sebagai orang yang tidak taat beragama, takut siksaanNya jika tidak beribadah, bahkan takut kalau-kalau Tuhan tidak sayang hingga tidak memberikan rejeki yang melimpah. Mengharap banyak dari Tuhan untuk melahirkan tuhan-tuhan baru.

Apalagi kalau melihat fenomena yang terjadi di tempat yang dianggap mulia, Gedung DPR, anyir darah Tuhan sangat menyengakkan. Bayangkan beberapa wakil rakyat dari partai yang katanya berlandaskan agama, kok bisa-bisanya dengan bangga menyikat apa yang bukan menjadi haknya. Baik itu duit maupun busit (bokong). Read More