Ujian Masuk Surga
Temanku yang satu ini senang sekali bertandang. Biasanya hal ini dilakukan selepas Isya dan dia selalu menelepon teman-teman lainnya untuk berkumpul di rumah yang dikunjunginya. Selalu saja ada yang datang, minimal tiga orang. Yah beginilah, kalau sejak lahir klower kami lebih betah untuk tinggal di kota kecil ini, tidak punya jiwa perantau. Paling-paling kuliah, setelah selesai kami pulang dan bikin usaha sendiri-sendiri, kebanyakan sih memang di bidang batik. Maklum kota batik. Sebagian dari kami sudah banyak yang jadi juragan. Sebagian lagi masih sekadar perajin seperti aku ini, ah tapi itu khan sebuah pilihan karena tak mau dipusingkan dengan biro gilyet, chek dan nota-nota tagihan lainnya. He..he..he.. alasan, padahal memang tak mampu. Oh ya, temanku tadi namanya Sahli, namun kami biasa memanggilnya - maaf - Jembut. Dia sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu. Bahkan konon istrinya pun ketika asyik-masyuk dengnnya memanggilnya, “Mas Mbut…” Ah ada-ada saja. Entah siapa yang pertama memanggil itu. Namun rasanya sejak kami kelas satu SD sudah memanggilnya demikian. Jadi untuk menerangkan kenapa panggilannya dengan sebutan jorok itu aku tak bisa. Read More
Setelah membaca postingan Kyai Slamet, 