LeOden.net

Bacalah Dengan Asma Tuhanmu Yang Mencipta…
Random Image

Kehidupan adalah suatu permainan. So, jangan terlalu suntuk dengan kekhawatiran, be happy... Jangan pernah mau jadi pecundang...

Menangkan Permainan...kehidupan...dengan belajar dan berbagi bersama...


Archive for the ‘Senyum’


Ujian Masuk Surga

ujian masuk surgaTemanku yang satu ini senang sekali bertandang. Biasanya hal ini dilakukan selepas Isya dan dia selalu menelepon teman-teman lainnya untuk berkumpul di rumah yang dikunjunginya. Selalu saja ada yang datang, minimal tiga orang. Yah beginilah, kalau sejak lahir klower kami lebih betah untuk tinggal di kota kecil ini, tidak punya jiwa perantau. Paling-paling kuliah, setelah selesai kami pulang dan bikin usaha sendiri-sendiri, kebanyakan sih memang di bidang batik. Maklum kota batik. Sebagian dari kami sudah banyak yang jadi juragan. Sebagian lagi masih sekadar perajin seperti aku ini, ah tapi itu khan sebuah pilihan karena tak mau dipusingkan dengan biro gilyet, chek dan nota-nota tagihan lainnya. He..he..he.. alasan, padahal memang tak mampu. Oh ya, temanku tadi namanya Sahli, namun kami biasa memanggilnya - maaf - Jembut. Dia sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu. Bahkan konon istrinya pun ketika asyik-masyuk dengnnya memanggilnya, “Mas Mbut…” Ah ada-ada saja. Entah siapa yang pertama memanggil itu. Namun rasanya sejak kami kelas satu SD sudah memanggilnya demikian. Jadi untuk menerangkan kenapa panggilannya dengan sebutan jorok itu aku tak bisa. Read More

Kenakalan Bocah

kenakalan bocahSetelah membaca postingan Kyai Slamet, mendadak pindah agama aku jadi teringat cerita masa kecil, kenakalan bocah di masjid. Waktu itu aku dan teman-teman masih SD kelas empat ke atas. Setiap bulan puasa sekolah kami libur. Setiap malam setelah buka puasa kami berada di masjid, bermain sampai menjelang waktu sahur. Dari mulai main petak umpet, menyulut mercon sampai tong-tong prek, tetabuhan untuk membangunkan orang mempersiapkan makan sahur. Dan hampir segala kekonyolan kenakalan bocah kami lakukan. Mencuri buah-buahan, belajar merokok (tanpa peduli bahaya merokok), menggedor-gedor pintu toko yang kebanyakan milik peranakan, Ciblon di kolam masjid, berebutan nyamikan untuk tadarus sampai mengerjain teman yang tidur.

Setiap malam sepuluh hari terakhir bulan puasa, di masjid kami selalu diadakan sholat tasbih berjamaah. Kalau malam ganjil (malam 21, 23, 25 dan seterusnya) yang ikut sholat tasbih akan melimpah, melebihi jamaah sholat tarawih. Tua-muda, laki-perempuan tumpah-ruah. Padahal sholat tasbih itu dimulai tepat pukul 01.00. Tidak tahu, mungkin orang-orang ingin menjaring lailatul qadar. Pikiran bocah kami; tidak peduli dengan lailatul qadar, nuzulul qur’an dan sebagainya. Yang penting ramai, dan kami bisa merasa diperhatikan. Read More