Kenakalan Bocah
Setelah membaca postingan Kyai Slamet, mendadak pindah agama aku jadi teringat cerita masa kecil, kenakalan bocah di masjid. Waktu itu aku dan teman-teman masih SD kelas empat ke atas. Setiap bulan puasa sekolah kami libur. Setiap malam setelah buka puasa kami berada di masjid, bermain sampai menjelang waktu sahur. Dari mulai main petak umpet, menyulut mercon sampai tong-tong prek, tetabuhan untuk membangunkan orang mempersiapkan makan sahur. Dan hampir segala kekonyolan kenakalan bocah kami lakukan. Mencuri buah-buahan, belajar merokok (tanpa peduli bahaya merokok), menggedor-gedor pintu toko yang kebanyakan milik peranakan, Ciblon di kolam masjid, berebutan nyamikan untuk tadarus sampai mengerjain teman yang tidur.
Setiap malam sepuluh hari terakhir bulan puasa, di masjid kami selalu diadakan sholat tasbih berjamaah. Kalau malam ganjil (malam 21, 23, 25 dan seterusnya) yang ikut sholat tasbih akan melimpah, melebihi jamaah sholat tarawih. Tua-muda, laki-perempuan tumpah-ruah. Padahal sholat tasbih itu dimulai tepat pukul 01.00. Tidak tahu, mungkin orang-orang ingin menjaring lailatul qadar. Pikiran bocah kami; tidak peduli dengan lailatul qadar, nuzulul qur’an dan sebagainya. Yang penting ramai, dan kami bisa merasa diperhatikan. Biasanya, kami akan menyulut mercon yang besar-besar pada saat orang-orang menunaikan sholat tasbih berjamaah. Gelegar suara ledakan mercon yang kami sulut, sungguh mengagetkan orang-orang itu. Tertawa ngakak dan puas kami pun membahana. Sebelum mereka rampung sholat, kami sudah melesat ke kebun-kebun untuk mencuri buah. Buah apa saja yang penting bisa dimakan; mangga, jambu, pisang, terkadang bahkan nangka yang belum begitu matang.
Pada suatu malam kami kehilangan salah seorang teman, namanya Amirudin, biasa kami panggil Aming. Kami hampiri di rumahnya, tidak ada. Dengan terpaksa kami masuk ke masjid, padahal kami sangat takut kena damprat, marah Pak Kyai. Kami menyadari, kemarahan itu disebabkan oleh polah kami. Namun syukurlah, Pak Kyai sedang i’tikaf di tempat pengimaman. Biasanya memang Pak Kyai setelah mengimami sholat tasbih dia akan rokokan sambil ngopi dulu bersama orang-orang tua di serambi masjid. Rupanya malam itu Pak Kyai langsung i’tikaf. Nah, ternyata betul seperti sangka kami semula, Aming tidur di dalam masjid tepat beberapa langkah dari tempat Pak Kyai i’tikaf. Aku buru-buru mau membangunkan dia, tapi ada yang mencekal lenganku, mencegah. Aku tidak ingat betul siapa yang mencegahku waktu itu. Si Ahmad atau Barok. “Kerjain Aming.” Dan kami pun berembuk. Kami sepakat untuk mengerjain Aming.
Teman-temanku setuju dengan pendapatku tentang bagaimana cara mengerjain Aming. Kami segera mencari godhong enthut-enthutan, pohon merambat daunnya seperti daun ketela. Jika daun ini diremas akan menebarkan aroma tak sedap seperti bau busuk -maaf- kentut atau kotoran. Kami segera mendapatkannya karena di lapangan tennis sebelah timur alun-alun tumbuhan ini rimbun merambat di pagar kawatnya. Ditumbuklah daun itu dan dicampurlumatkan dengan pisang yang masak. Sambil menumbuk kami ketawa terpingkal-pingkal karena sudah membayangkan apa yang bakal terjadi dengan Aming, padahal kami mesti menutup hidung, baunya luar biasa.
Setelah selesai, kami kembali ke dalam masjid. Kali ini kami tegang, takut kalau keburu ketahuan Pak Kyai atau Aming terbangun. Yang dapat tugas membaluri “adonan-antik” ini si Ahmad. Ahmad pelan sekali menyingkap sarung Aming, lalu membalurkannya tepat di bokong Aming. Ada yang kurang, saya cepat mengambil air setengah gayung untuk membasahi sarung Aming agar terkesan ngompol juga. Gila, aming tidak juga bangun. Dasar kerbau kalau tidur. Si Muhib rupanya tidak sabar, dia menghampiri Pak Kyai yang sedang i’tikaf, “Pak Kyai, Aming ngompol dan berak itu…” Aku lihat betul perubahan pada wajah Pak Kyai, langsung merah padam.
“Apa?!” Teriak Pak Kyai sambil melompat kaget.
“Ming. Bangun! Bangun!” Pak Kyai membangunkan Aming dengan menendang sambil tangannya menutup hidung rapat-rapat.
“Haah…” Aming bangun gelagapan dan kaget. Dia akan segera lari namun langsung dicekal tangannya oleh Pak Kyai.
“Kamu di situ saja. Kalau kamu ke mana-mana nanti malah najis semua!” Geram Pak Kyai. Orang sepuh itu (semoga diterangi kuburnya, beliau sudah meninggal dua tahun yang lalu) mengambil tikar, Aming disuruh naik ke atasnya. Pak Kyai pun memanggil kami, rupanya disuruh menarik tikar itu dan Aming naik di atasnya menuju ke kolam tempat wudhu. Entah siapa yang mulai, kami justru lari menghindar. Dari kejauhan kami lihat Pak Kyai sendiri yang menarik Aming di atas tikar itu.
Dasar Kenakalan bocah. Kalau teringat hal itu, sampai sekarang aku suka ketawa sendiri.

August 4th, 2008 at 11:30 am
gpp kok mas. semua perbuatan tergantung amalnya … wkakakakaka
[Reply]
August 4th, 2008 at 11:31 am
oya silahkan mampir di rumah mantan kyai
[Reply]
August 4th, 2008 at 7:43 pm
nek pekalongan yo rahat…
ada juga cerita salah satu keluarga si aming yaitu mama rozi (karena suaminya adalah papa rozi). sewaktu bikin KTP mama rozi bilang “dilati aming” (dijilatin aming). maksudnya sih mau ngomong “dilaminating”
rahate pok…
[Reply]
August 13th, 2008 at 6:42 pm
waks…. dasar anak nakal… wukekekek…. nakal banget siy!!!
bagus… bagus
[Reply]