Kontemplasi Perajin Batik
Ada seorang teman, perajin batik sekaligus penganut salah satu tarekat sufi. Suatu hari dia pernah kebingungan antara meneruskan profesinya sebagai perajin batik atau berpindah profesi. Hal ini dirasakannya mengingat apa yang dia tekuni tidak memberikan imbalan materi yang cukup dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, satu istri dan tiga orang anak yang masih sekolah. Beberapa teman telah dia ajak bicara untuk diminta pendapatnya, namun tak seorang pun bisa memberikan advis yang bisa membuat hatinya yakin dan tenteram. Sholat istikharah (Meminta petunujuk Tuhan) pun sudah beberapa kali dia lakukan namun tidak juga memberikan gambaran yang pasti. Akhirnya, dia menghadap mursyid (guru spiritual) nya. Dia kemukakan apa yang menjadi kemusykilan dalam benaknya, antara meneruskan profesi sebagai perajin batik yang dianggapnya tidak menghasilkan materi yang cukup atau beralih profesi yang bisa memamurkan dan mensejahterakan keluarganya. Dan dia pun mendapat jawaban dari Sang Guru, “teruskan batik sampai futuh (istilah sufi untuk menggambarkan keadaan di mana sudah tidak ada lagi halangan), jika batikmu sudah futuh maka segala apapun pada dirimu akan futuh juga.” Mak cesss… rasanya seperti ada air sejuk mengguyur hatinya.
Memang demikianlah perasaan yang dialami para penempuh jalan sufi ketika menghadapi suatu kebingungan dan lantas menerima advis dari guru spiritualnya. Namun, teman yang satu ini tidak berhenti di situ. Ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Kenapa batik? Kok tidak hal yang lain yang bisa membuatnya futuh. Bahkan dikatakan oleh mursyidnya, dengan batik semua hal akan bisa lancar… dan ini sudah mengarah pada keruhanian, hal-hal yang bersifat ilahiah. Nah…
Sore itu selepas Subuh, dia tergopoh-gopoh datang ke rumah, “Den, tolongin aku… tadi malam aku menghadap Abah (sebutan untuk guru spiritualnya), habis itu aku ga bisa tidur semalaman. Mataku rasanya tidak bisa dipicingkan barang sejenak..” Dan dia pun menceritakan seperti cerita di atas. Dia memang tergolong pengamal tarekat yang tekun dan saleh. Dalam hitungannya, masak iya batik, hanya sekadar batik ada hubungan yang sangat erat dengan tarekat? Begitu pentingkah batik hingga dikatakan Sang Mursyid seakan sebagai hulu dari segala Pencerahan. Bukan amalan wirid atau ritual lainnya?
Aku tersenyum juga kasihan melihat dia. “Den, fenomena apa lagi ini? Jangan-jangan apa yang diwejangkan Abah adalah sebuah antitesis, kebalikannya? Bilang ngalor malah yang dimaksud ngidul?”
“Mir, tenanglah,” ujarku mencoba menenangkan, “coba pikir dengan tenang, Insya Allah akan temu jawabannya. Begini, menurutku apa yang disampaikan oleh Beliau itu bukan antitesis atau kosokbalik namun memang demikianlah adanya.”
“Kok kamu bisa ngomong begitu?” Matanya mendelik tak percaya.
“Begini, pada umumnya batik itu khan dibuat di atas mori, kain putih. Putih itu bersih dan bisa dijadikan sebagai perlambang hati. Titik tolak semua agama maupun religiusitas apa pun adalah hati. Demikian pun dengan tarekat yang kamu anut. Dan Batik adalah menghias. Jadi apa kata mursyidmu itu boleh dimaknai. Jika hatimu sudah terhiasi dengan Ke-Maha-Indah-an dan Ke-Maha-Sempurna-an Sang Maha Pencipta, Maka tidak ada apa pun yang menjadi ganjalan, halangan dan rintangan segala aspek hidup dan kehidupanmu. Dan itu bersifat universal, pada siapa pun, tidak khusus untukmu…” Aku nyerocos, tidak tahu kata-kata dari mana yang meluncur dari mulutku itu. Aku tak pernah memikirkannya.
Temanku ini melongo, “Subhanallah…” Ucapnya lirih, kulihat matanya berkaca.

July 24th, 2008 at 9:11 pm
Pertamax…..
Baru tak baca…
agar gak keduluan sipdeh.
[Reply]
July 24th, 2008 at 9:39 pm
untuk penganut kepercayaan sufi sendiri saya kurang jelas mas
apakah itu bagian dari tarekat ?????
[Reply]
July 24th, 2008 at 10:18 pm
tarekat sufi itu apa ya Mas?
[Reply]
July 25th, 2008 at 10:32 am
Mau tau tentang Sufi Lebih panjang x lebar x tinggi pakai sangat?
Klik aja http://www.sufimuda.wordpress.com
[Reply]