Menaklukkan Kejenuhan Dan Rasa Mandek
“Hidupku sungguh membosankan,” keluh seorang pria berumur 47 tahun. “Setiap pagi aku bangun tidur, bekerja, lalu pulang ke rumah. Tiba di rumah, aku kembali menjalani hal yang sama - membaca koran, makan malam, bercengkerama dengan anak-istri, melakukan sedikit pekerjaan rumah, menonton TV dan naik ke tempat tidur. Esoknya, bangun dan kembali bekerja.”
“Dulu aku senang dengan apa yang aku kerjakan. Tapi sekarang rasanya aku sudah mandek. Apa lagi yang harus aku kerjakan pada sisa hidupku? Aku rasa hidupku ini akan berjalan terus seperti ini sampai aku mati.”
Pria ini sudah mandek - tak bisa lagi ke mana-mana - dan ia merasa terjebak dalam hidupnya. Ia tidak tahu lagi dan merasa takut untuk membebaskan diri dari rutinitasnya. Tapi kalau saja ia bisa menerima kenyataan bahwa ia sedang berada pada akhir dari suatu fase tertentu, maka ia mempunyai peluang untuk memulai sesuatu yang baru. Dan inilah sebenarnya yang harus diperjuangkan.
Bagi sebagian besar kita; pekerjaan adalah dasar dari identitas dan harga diri, dan ini berlaku selama kita terus mengalami keberhasilan. Tapi kenaikan pangkat, gaji dan karir itu ada batasnya, sehingga kedang-kadang menimbulkan perasaan gagal pada diri kita. Penguasaan kita yang maksimal terhadap suatu pekerjaan juga bisa menimbulkan perasaan jenuh dan rasa mandek. Semua profesi akan mengalami hal itu. Dokter gigi selalu berkutat dengan mulut dan gigi-geligi, guru terus menerus mengajar dari itu ke itu, pengacara dengan berbagai permasalahan peliknya, karyawan atau pegawai dengan tugas-tugas kantornya dan…. blogger dengan pelototannya ke PC maupun laptop. Semua orang tentu akan mengambil strategi yang berbeda untuk mengatasi hal ini. Berikut ini adalah sedikit tips tambahan untuk menaklukkan kejenuhan dan rasa mandek :
Mengambil inisiatif . Orang-orang yang merasa jenuh, mandek dan terjebak itu acapkali mengatakan, “biarlah aku melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabku ini, dan semoga saja terjadi perubahan yang lebih baik.” Jika kita mengharapkan atasan, kebetulan atau nasib akan menciptakan kesempatan bagi kita, maka dengan sendirinya kita telah memberikan kekuatan terlalu besar pada pihak atau sesuatu di luar diri kita sendiri. Padahal semua perubahan bertitik mula dari dalam diri kita sendiri seperti yang telah aku tulis di sini dan di sini . Kitalah yang mengetahui kompetensi diri kita, bukan orang lain. Kita berada dalam suatu posisi yang unik dan spesifik untuk memperjuangkan hidup kita. Maka itu mulailah mengambil inisiatif untuk merekonstruksi atau mendesain ulang pekerjaan kita, sehingga pekerjaan itu menjadi sebuah tantangan yang baru. Cobalah mengingat-ingat berbagai aspek pekerjaan kita yang memberikan kepuasan hakiki pada diri kita dan perbesarlah aspek itu. memang ada saja kemungkinan bahwa kita tidak memperoleh semua yang kita inginkan, tapi yang jelas ialah bahwa kita tidak akan memperoleh sesuatu jika kita tidak segera mengambil inisiatif untuk memperjuangkannya.
Mengubah karir . Mencoba menjalani karir yang kedua memang seperti berjudi. Tapi bagi yang siap untuk menanggung akibatnya akan merupakan suatu pilihan yang terbaik. Carilah sesuatu dalam diri kita yang bisa kita kembangkan untuk dijadikan sebagai karir kedua. Misalnya, bagi Anda yang mengalami kejenuhan dan rasa mandek setelah memilih ngeblog sebagai profesi utama. Ketrampilan Anda menulis bukankah sudah cukup lumayan, karena kebiasaan posting secara rutin? Cobalah kembangkan kemampuan menulis ini untuk menjadi penulis freelance di media massa. Pilihlah topik-topik yang Anda sukai dan kuasai. Masuklah ke komunitas penulis, ikuti workshop-workshopnya. Dari aktifitas yang baru ini saja akan menimbulkan suatu gairah yang dengan sendirinya akan melenyapkan rasa jenuh dan mandek tadi.
Kembali belajar . Belajar tanpa henti akan mendatangkan tantangan yang tanpa henti pula. Kita bisa meningkatkan dan mengembangkan ketrampilan kerja yang lama atau mengembangkan suatu kecenderungan karir yang baru sebagai jalan untuk memperbesar peluang melakukan sesuatu yang baru dan lain samasekali. Kita juga bisa belajar demi belajar itu sendiri. Di samping mempelajari hal-hal yang diajarkan dalam kursus-kursus formal, kita juga bisa mengambil prakarsa untuk belajar sendiri. Di dalam pekerjaan, perubahan berlangsung dengan laju yang sangat tinggi. Dan kesempatan hanya bisa ditangkap oleh mereka yang senantiasa memelihara kapasitas belajarnya, kemampuanny untuk mengadaptasi dan mengantisipasi. Seperti juga halnya kemampuan lain, belajar juga membutuhkan latihan.
Memanfaatkan keahlian dalam bidang lain . Mereka yang merasa jenuh , mandek dan terjebak tapi tidak mampu berpindah pekerjaan, perlu menyalurkan pengetahuan dan ketrampilannya pada bidang-bidang lain yang memberi dampak nyata. Salah satu cara untuk menjadi produktif adalah dengan menyediakan diri sebagai pembimbing. Dengan menjadi pembimbing, kita ditantang untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Dan merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk mengarahkan orang-orang yang dibimbing mencapai apa yang diinginkannya.
Melibatkan diri dalam kegiatan sosial . Sektor-sektor sosial akan memberikan kepuasan yang cukup tinggi asal kita bisa mendekatinya dan terlibat di dalamnya dengan komitmen yang bersifat sosial pula. Partisipasi dalam kegitatan-kegiatan sosial memberikan peluang untuk bergumul dengan berbagi isu, memperoleh pengalaman baru, menemukan perspektif baru dalam berbagai persoalan, membangkitkan kreatifitas baru dan memberikan kesempatan untuk mengasa jiwa kepemimpinan kita. Kegiatan-kegiatan sosial adalah suatu tempat baru di mana kita bisa memanfaatkan dan kebijaksanaan kita.
Menciptakan keseimbangan . Poin ini sebenarnya adalah poin terpenting. Namun saya letakkan pada poin terakhir adalah lebih sebagai landasan atas poin-poin terdahulu. Jangan sampai aktifitas baru kita untuk menanggulangi rasa jenuh dan mandek kita justru menimbulkan masalah baru karena kita tidak bisa menciptakan keseimbangan dalam setiap aktifitas baru itu. Apa pun yang kita lakukan akan menjadi sia-sia jika tidak bisa menciptakan keseimbangan. Dan keseimbangan utama dalam setiap kegiatan kita adalah hati yang bisa bersandar dan berselaras dengan religiusitas yang dalam.
Tidak ada seorang pun yang bisa dan yang harus mengatakan kepada kita apa yang perlu kita lakukan dengan hidup dan kehidupan ini. Secara periodik kitalah yang harus mengevaluasi diri kita sendiri. Dengan mengambil prakarsa, kita bisa mengubah hidup kita menjadi seperti yang kita inginkan.

August 5th, 2008 at 11:17 am
Pertamax dulu ah….
Baru baca sampe habis….
[Reply]
August 6th, 2008 at 4:03 pm
Sebuah artikel yang sangat menggairahkan … saya termasuk orang yang baru mandek dan akan berusaha lagi dengan memanfaatkan keahlian lain
[Reply]
August 6th, 2008 at 4:33 pm
Sebuah posting yang sangat inisiatif, layak dijadikan masukan dan refenrensi nih…
[Reply]