Ujian Masuk Surga
Temanku yang satu ini senang sekali bertandang. Biasanya hal ini dilakukan selepas Isya dan dia selalu menelepon teman-teman lainnya untuk berkumpul di rumah yang dikunjunginya. Selalu saja ada yang datang, minimal tiga orang. Yah beginilah, kalau sejak lahir klower kami lebih betah untuk tinggal di kota kecil ini, tidak punya jiwa perantau. Paling-paling kuliah, setelah selesai kami pulang dan bikin usaha sendiri-sendiri, kebanyakan sih memang di bidang batik. Maklum kota batik. Sebagian dari kami sudah banyak yang jadi juragan. Sebagian lagi masih sekadar perajin seperti aku ini, ah tapi itu khan sebuah pilihan karena tak mau dipusingkan dengan biro gilyet, chek dan nota-nota tagihan lainnya. He..he..he.. alasan, padahal memang tak mampu. Oh ya, temanku tadi namanya Sahli, namun kami biasa memanggilnya - maaf - Jembut. Dia sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu. Bahkan konon istrinya pun ketika asyik-masyuk dengnnya memanggilnya, “Mas Mbut…” Ah ada-ada saja. Entah siapa yang pertama memanggil itu. Namun rasanya sejak kami kelas satu SD sudah memanggilnya demikian. Jadi untuk menerangkan kenapa panggilannya dengan sebutan jorok itu aku tak bisa.
Kemarin malam kumpul di rumahku. Rizam, Ahmad, Barok, Sulis dan Si Jembut. Obrolan malam itu seperti layaknya obrolan lainnya, dari mulai yang berat sampai guyonan. Dari kondisi carut-marut negara sampai urusan perut. “Den, ada satu cerita sufi yang luar biasa….” Ujar Sahli padaku.
“Cerita sufi? Cerita sufi yang bagaimana?” Tanyaku ingin segera mendengar ceritanya, barangkali aku sudah pernah membaca atau mendengarnya.
“Ini cerita tentang ujian masuk surga.”
“Mau masuk surga masih pake ujian? Kayak anak sekolah saja.” Sergah Ahmad, “kalau yang namanya masuk surga, ya tinggal masuk saja. Paling hisab dan sirotol mustakim, dan itu bukan ujian. Semua sudah selesai dengan membawa amalnya masing-masing. Ujiannya ya di dunia ini.”
“Lho kamu belum tahu… Kita semua ini nanti akan mengalaminya.” Jawab Sahli enteng. Lalu Sahli mulai bercerita, bahwa nanti ketika semua sudah berkumpul di akherat. Ada maklumat; semua yang telah ditentukan masuk surga akan diuji lagi kesabarannya. Cara ujian itu adalah berenang di lautan yang penuh sesak tertutup bangkai berbagai binatang yang sudah rusak dengan bau busuk yang sangat menyengak dan rupa yang sudah tidak karuan karena sudah digerogoti belatung. Itu satu pilihan; berenang. Pilihan kedua; menyeberanginya dengan sampan kecil ditemani seorang lawan jenis yang sungguh jelek. Kata Sahli, semua orang memilih pilihan kedua.
Tiba giliran kami, pertama Sahli. Dia ditemani oleh wanita yang wajahnya hampir tidak bisa dikenali lagi sebagai manusia. Rusak amburadul. Tidak bisa diindera, mana hidung, mulut, mata, pipi dan jidat. Wajahnya seperti tertutup lemak babi yang berlapis-lapis. Baunya busuk dan amis. Hanya suaranya yang menandakan bahwa mahluk itu perempuan.
“Mas…” ucap mahluk itu manja sembari bergelayut ke bahu Sahli. Dan oh… dia mencium Sahli. Si Jembut ini bergidik dan mencoba mengelak. Namun si mahluk malah mendekapnya kuat-kuat dan sembari menggerayanginya dengan sangat bergairah. Sahli kelimpungan. Ingin sekali dia mencebur saja ke lautan bangkai itu. Tapi diurungkannya. Karena dia sadar kurang pandai berenang dan akan lebih menjijikkan bergumul dengan bangkai-bangkai itu. Apa boleh buat, dia biarkan saja apa yang dilakukan mahluk menjijikkan itu. Dia dayung kuat-kuat agar cepat sampai ke seberang.
Sahli ini punya kelebihan dalam kemampuannya bercerita. Dia bisa mendiskripsikannya dengan sangat detail sehingga siapapun yang mendengarkan akan terperangah seperti masuk terserap dalam ceritanya. Dan satu persatu dari kami melakukan ujian masuk surga itu; diceritakannya dengan dahsyat. Terakhir Rizam. Dia ditemani seorang perempuan yang sungguh wah… Ryanti Cartwright.
Kami semua terkesiap. Dan ceritanya kami semua melakukan demo, protes pada malaikat pengujinya.
“Pak Malaikat yang terhormat, ini apa-apaan? Semua diuji dengan mahluk-mahluk yang sangat menjijikkan kok Rizam diuji dengan seorang perempuan yang teramat cantik?” Sahli berteriak.
“Oh itu…” Ucap Malaikat itu sembari tersenyum.
“Oh itu, bagaimana Pak Malaikat?!” Sahli makin tak sabar.
“Itu yang diuji perempuannya. Sedang lelakinya itu mahluk yang menjijikkannya…”
“Hah…” Kami semua terperanjat.
Mendengar akhir cerita Sahli itu kami semua tertawa ngakak. Dan Rizam misuh, “asu!”
“Raimu iku jan por, Mbut…” (Wah untuk kalimat ini aku sulit menerjemahkannya secara pas. Mungkin kira-kira begini; Kamu itu keterlaluan… Atau kalau ada yang bisa menerjemahkannya dengan lebih pas silakan).
Malam telah makin larut, sudah hampir jam dua dini hari. Nyamikan mewah khas kota kami pun sudah ludes; martabak brahim, kue bangka radio saba, kue maryam dan halwa. Kopi tahlil pun tinggal ampas. Malam yang gayeng. Teman-temanku itu pun pada pamitan. Dan sekelumit ujian masuk surga yang konyol itu pun kubawa tidur.

August 7th, 2008 at 1:37 am
mas mbut itu pasti orangnya lemah lembut ya…makanya dipanggil jembut
LOL
[Reply]
August 8th, 2008 at 8:58 am
ado2 sajo uey
[Reply]
August 8th, 2008 at 2:50 pm
waduh, sebutannya sangar
[Reply]
August 9th, 2008 at 11:13 am
berbagi itu indah mas… entah masalah entah kebahagian… semua ada porsinya.. saya jadi ingat masa waktu masih kuliah dulu.. kita sering berbagi mulai hal NGGENAH sampai tidak NGGENAH… semua ada faedahnya
[Reply]
August 12th, 2008 at 3:09 pm
gambar opo iki ??
[Reply]